Senin, 12 April 2010

PASKAH

Paskah

paskah adalah dasar, sumber dan tujuan umat kristen
dari paskah mengalir sejarah keselamatan.

Rabu, 27 Mei 2009

Jean Paul Sartre: Eksistensialisme adalah Humanisme

Jean Paul Sartre: Eksistensialisme adalah Humanisme

Eddy Suranta

Ajaran sartre tidak bisa lepas dari kontetks zamannya. Awal buku eksitensialisme adalah humanisme merupakan suatu pidaro. Ia menjawab kritikan terhadap eksistensialisme. Kritik tersebut antara lain: pertama, eksistensialisme dianggap pandangan orang yang putus asa lalu manarik diri dari kehidupan sosial; kedua, eksistensialisme dipandang filsafat borjuis karena tidak transformatif sperti marxisme. Tujuan dari tulisan ini adalah, pertama mendefinisikan eksistensialisme dan membedakan antara eksistensialisme ateistik dan eksistensialisme religius (teistik); kedua, menunjukkan bahwa eksistensialisme bukan filsafat orang yang putus asa, menyendiri dan kesepian, tetapi satu jenis humanisme; ketiga, menunjukkan bahwa adalah satu jalan alternatif yang penuh semangat di antara Kekristenan dan marxisme.
Sartre berangkat dari prinsip eksistensi mendahuli esensi. Ia beranjak dari cogito ergo sum. Dari prinsip ini, ia menunjukkan bahwa esensi manusia adalah kebebasannya. Tidak ada esensi seperti digambarkan tradisi agama atau filsafat. Bagi sartre, tidak ada human nature, tidak ada sifat universal. Karena esensi universal tidak ada maka manusia tidak dibebani oleh natropologi esensialis.
Ketika manusia ingin menjadi manusia yang baik, ia sebenarnya mengalami alienasi karena asumsi antropologi yang disusun itu asing bagi manusia. Sartre juga mengatakan bahwa manusia itu adalah apa yang ia produksi setiap hari. Manusia tahu hakikat dirinya ketika ia sudah mati.
Masa depan manusia tergantung dirinya, kebebasan diberikan padanya. Ia tidak dibebani asumsi antropologi. Manusia itu adalah kebebasan. Kebebasan itu bukan karakter manusia di samping karakter lain. Kebebasan itu adalah manusia itu sendiri. Ketika manusia menjatuhkan pilihan, manusia selalu memilih yang terbaik. Ketika ia memilih yang lebih baik bagi dirinya, itu berarti lebih baik bagi manusia. Dari sinilah titik tolak tanggung jawab sosial.
Bagaimana ia merespon celaan bahwa eksistensialisme adalah bentuk pesimisme? Dengan mengetakan bahwa identitas manusia itu adalah apa yang ia produksi. Manusia adalah kebebasan. Tuduhan bahwa eksistensialisme itu pesimisme tidak beralasan, justeru manusia itu orang yang optimis. Masa depan manusia tergantung pada apa yang ia buat. Ini juga bukan sifat orang determinisme karena masa depannya tergantung pada tangannya. Tuduhan bahwa ia mempromosikan sikap pesimis justeru gagal.
Bagaimana ia merespon tuntutan bahwa ia membangun sikap subjektif, jatuh pada diri sendiri? Ketika manusia menyadari dirinya sebagai subjek “ada”, pada saat itu juga ia menyadari eksistensi subjek di luar dirinya. Ketika saya mengatakan “saya berpikir” maka pada saat itu saya menyadari diriku. Pada saat yang sama saya menyadari keberadaan orang lain. Eksistensi itu sifatnya intersubjektifitas, saling mengandaikan. Kalau saya mengklaim saya ada, maka saya juga mengklaim orang lain bahwa ia ada. Sosialitas manusia itu di sini intersbujektifitas.
Bagi sartre—yang tidak percaya human nature—satu-satunya yang universal adalah human condition (kondisi manusia). Manusia itu terlempar ke dalam dunia. Karena terlempar, ia dihukum menjadi bebas. Manusia dikondisikan oleh keterbatasan-keterbatasan. Manusia tahu sebagai budak di dalam masyarakat yang kafir atau menjadi pejabat dalam masyarakat proletarian, tetapi ada satu hal yang selalu mengikat yaitu kebutuhan untuk berada di dalam dunia, keharusan untuk bekerja dan mati. Inilah yang bersifat universal. Yang universal bukan hakekat manusia tetapi kondisi manusia.
Sartre memandang kondisi yang membatasi manusia itu bukan sesuatu yang subjektif atau objektif tetapi sekaligus subjektif dan objektif. Kita bisa menemui kondisi itu di mana-mana. Ini bisa dianggap objektif karena dialami oleh manusia, tetapi juga subjektif karena dialami oleh setiap manusia.

Sabtu, 23 Mei 2009

posmodernisme

POSMODERNISME

Eddy Suranta Sembiring

Istilah Posmodernisme
Posmodernisme akhir-akhir ini menjadi istilah yang merasuki seluruh bidang kehidupan: seni, arsitek, seks, dll. (Bisa disearching di internet berapa entry yang muncul). Pertanyaannya, bagaimana kita memahami posmodernisme?
Catatan pertama. Bambang Sugiharto mengatakan bahwa istilah posmodernisme sangat ambigu dan tidak jelas seperti istilah modernisme. Mengapa istilah posmodernisme tidak jelas? Karena posmodernisme dipakai untuk memfasilitasi aliran filsafat yang tidak ada pengikatnya satu sama lain (bdk. Buku Hardiman: empirisme, rasionalisme, romasntisisme, dsb.). banyak aliran dipayungi modernisme padahal aliran ini tidak berhubungan satu sama lain. Banyak unsur filosofis yang tidak berkaitan. Posmodernisme pun mengalami hal yang sama. Posmodernisme juga memayungi banyak aliran filsafat bahkan seni, arsitek,dsb.
Catatan kedua, dari etimologi. Post dan isme ditambah pada kata modern. Pos bukan dimaksud sebagai indikasi kronologis atau periode setelah modernisme, melainkan memiliki arti bermacam-macam. Pertama, ada yang mengatakan kata pos di depan modernisme menandakan suatu kritk atas modernisme, teapi pengkritik ini pun masih hidup dalam ranah modernisme: mengambil jarak terhadap premis modernisme. Kedua, ada juga yang mengatakan bahwa kata pos di depan modernisme merupakan indikasi bahwa modernisme mencapai tahap yang matang. Kata isme juga membingungkan karena isme dipakai untuk kata tunggal padahal posmodernisme dipakai untuk memayungi premis-premis filsafat modern. Kata isme juga tidak begitu jelas. Menurut Bambang, isme adalah kritik-kritik filosofis atas gambaran dunia, epistemologi dan ideologi modern.
Lalu apa itu posmodernisme? Pemikiran-pemikiran filosofis dan segala bentuk refleksi kritis atas paradigma-paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya. Karena posmodernisme adalah kritik atas modern maka para filsuf tidak mau disebut filsuf posmodernisme. Mereka tidak mau disebut membawa aliran baru filsafat. Habermasa, Foucoult dan Derrida tidak mau disebut kaum posmodernis.

Konteks Posmodernisme: Metanarasi
Istilah posmodernisme digunakan pertama kali dalam bidang seni, lalu sejarah (lihat, Bambang). Dalam dunia filsafat, istilah ini dikibarkan oleh Francois Lyotard lewat bukunya, The Postmodern Condition: a Report on Knowledge. Dunia modern (filsafat modern) itu melegitimasi pengetahuan-pengetahuan manusia dengan metanarasi (narasi besar), developmentalisme, dan rasionalitas. Narasi besar adalah suatu desain yang komprehensif yang menjurus pada totalitarianisme dan menekankan konformitas yang menguasai segala bentuk pengetahuan, misalnya agama.
Contoh pertama, agama. Agama pernah menjadi suatu bentuk/gerakan yang mengusai manusia. Contoh, apa itu pengetahuan yang benar? Bagaimana etika? Agama menjadi referensi pengetahuan dan etika. Agama menjadi semacam rumah, di mana dinamika manusiadipengaruhi agama. Lalu ada semacam prinsip-prinsip universal, menuntun manusia menyatu pada arus besar. Gejala sosial, pembaruan yang tidak sesuai dengan agama dianggap alienasi dan menyimpang. Agama ini juga didukung pemikiran modern.
Contoh kedua, nasionalisme. Nasionalisme di Indonesia pernah menjadi metanarasi. Pengetahuan. Politik, ekonomi, dan budaya harus merujuk pada nasionalisme. Bentuk-bentuk yang tidak sesuai dengan nasionalisme dianggap menyimpang. Contoh ketiga, rasionalitas. Semua yang tidak rasional tidak punya kebenaran. Inilah yang disebut metanarasi.
Menurut Lyotard, metanarasi ini menyembunyikan realitas-realitas yang tidak mampu direpresentasikan, misalnya rasionalisme. Tidak semua realitas bisa direpresentasikan rasionalitas. Inilah yang hilang. Tugas filsafat posmodernisme adalah mengais realitas yang tidak mampu direpresentasikan filsafat modern.
Contoh, Heidegger dengan Lebenswelf. Dengan rasinalisme dan empirisme realitas dunia berhasil dibuka. Heidegger dan Husserl menemukan konsep leibenswlf yakni dunia-dunia yang masih perawan, yang belum tersentuh. Dengan konsep ini, kategori filosofis modern hanya abstraksi sehingga apa yang kita pahami sebagai dunia hanya abstraksi. Modernisme yang mengklaim telah menemukan realitas dunia terjebak oleh konsepnya karena mereka tidak memahami kehidupan yang mengalir.




Para posmodernis bergulat terus dengan bahasa. Intelligibilitas dari realitas tidak bisa tuntas hanya melalui rasionalitas, tetapi peran bahasa menjadi sangat penting untuk mengais sudut kehidupan real yang tidak bisa dicakup prinsip empirisme, rasionalisme dan positivisme (modernisme). Derrida, misalnya, membongkar istilah-istilah itu, misalnya agama itu apa? Semua adalah konstruksi sosial, tidak ada nature. Semua adalah pertanyaan bahasa, pertanyaan pemaknaan.
Seorang posmodernis yang konsekuen itu tidak memproduksi sesuatu. Ia seperti anjing yang menggonggong, mengomeli modernisme. Lyotard bahkan mendefinisikan posmodernisme sebagai pre modern dalam arti posmodernisme itu kelahiran kembali gairah-gairah berfilsafat sebelum dipatenkan dalam filsafat modern. Bagi lyotard posmodernisme itu adalah dinamika.

Akibat Modernisme: 6 Unsur
Dengan mendekonstruksi metanarasi posmodernisme mencoba menyingkap apa yang tidak tersentuh metanarasi. Orang jadi terbuka terhadap pluralitas. Realitas itu bisa ditangkap secara berbeda. Mengapa penolakan terhadap metanarasi begitu luas? Situasi apa yang mendominasi modernisme? Ada 6 unsur yang dikembangbiakkan modernitas.
1. Pandangan dualistik yang membagi kenyataan menjadi dua: subjek-objek. Alam diobjektivasi.
2. Pandangan modern yang objektivistis dan positivistis. Tidak hanya dunia, tetapi manusia juga dijadikan objek. Manusia dan masyarakat dijadikan mesin.
3. Kecenderungan modern menjadikan ilmu positif dan empiris sebagai kebenaran tertinggi, sedangkan dimensi moral, religiositas dipinggirkan.
4. Lahirnya materialisme. Segala sesuatu direduksi menjadi materi. Materialisme tidak hanya ontologis tetapi juga praktis. Materialisme praktis karena dalam pikiran yang penting adalah materi maka dalam hidup orang hanya mengejar materi.
5. Militerisme. Karena masyarakat sudah tidak berpijak pada nilai-nilai tetapi pada materi maka bagaimana mengikat masyarakat itu? Jawabnya adalah militerisme.
6. Tribalisme. Kamp Auschwitz adalah tempat kemenangan modernitas tetapi juga akhir modernitas. Modernitas tidak mampu menjawab persoalan lalu terjadi pembantaian.

Puncak (mahkota) modernitas adalah dehumanisasi (pembunuhan manusia atas manusia). Umumnya ada 2 aliran posmodernisme yaitu dekonstruksi dan konstruksi (revisionis). Aliran dekonstruksi ingin membongkatr kembali bangunan filsafat.

Kamis, 12 Maret 2009

Jean Paul Sartre

Jean paul Sartre (1905-1980)

Eddy Suranta

1. Pengantar
Jean Paul Sartre, seorang eksistensialis, mengalami masa kecil yang tidak bahagia. Ia memiliki minat dalam bidang sastra dan melihat sastra sebagai agama baru yang menggantikan kekristenan. Ia bercita-cita menjadi sastrawan besar (misunderstood). Sartre dilahirkan di lingkungan agama (Katolik) tapi kelaurganya skeptis. Mereka suka memisahkan diri dari institsi komuniter. Karena itu sastra dianggap sebagai agama baru karena sastra tidak terikat pada institusi.

2. Kesadaran
kesadaran itu bersifat intensional (seiring dengan fenomenolog), menurut kodratnya terarah pada dunia. Menurut Sartre, kesadaran (akan) dirinya berada sebagai kesadaran akan sesuatu. ketika kesadaran kita yang intensional hadir, di situ juga kesadaran akan diri muncul. Ketika saya menyadari ada buku, pada saat itu juga saya menyadari diri saya.

kesadaran itu adalah kesadaran diri (self consciousness). Kesadaran (akan) diri tidak sama dengan pengalaman tentang diri; mengambil diri sebagai objek pengenalan. kesadaran diri itu muncul ketika kesadaran diri terarah pada sesuatu; Pada saat itulah kesadaran itu hadir. Cogito bukanlah pengenalan diri, melainkan kehadiran kepada dirisecara nontematis.

Senin, 02 Maret 2009

Pemikiran Fichte tentang Aku-murni dan Tiga Proposisi Dasar Filsafat

Pemikiran Fichte tentang Aku-murni dan Tiga Proposisi Dasar Filsafat

Eddy Suranta

Pertama-tama Fichte menyebut asas dasariah Filsafat adalah “inteligensi pada dirinya sendiri” yang disebutnya “Aku” atau “Ego”. Yang dimaksudkan oleh Fichte tentang Aku-murni itu adalah suatu “Aku-murni” yang melampaui “aku empiris” seorang ndividu. Yang dimaksud Aku-murni tak lain daripada kesadaran pada dirinya sendiri. Bagaimana memahami ini? Suatu ketika, Fichte menunjukkan adanya Aku-murni ini kepada para mahasiswanya. Katanya, “saudara-saudara, pikirkanlah dinding itu.” Lanjutnya, “pikirkanlah dia yang memikirkan dia yang memikirkan dinding itu.” Dan seterusnya. Dari proses refleksi terus menerus ini, kita lalu akan menemukan adanya sesuatu yang tetap, yaitu sesuatu yang melakukan refleksi atau objektifasi itu. Itulah aku murni! Aku murni inilah asas dasariah filsafat.

Aku murni itu, menurut Fichte, bukanlah sebuah substansi atau sebuah entitas yang melampaui kesadaran, melainkan sebuah kegiatan di dalam kesadaran. Kegiatan ini menjadi dasar seluruh kesadaran diri. Karena itu, menurut Fichte, Aku murni tak bisa dijadikan objek kesadaran, sebab dialah yang memungkinkan objektivasi itu. Dengan kata lain, Aku murni ini adalah suatu”Aku transenfental”. Aku transendental ini bukan sebuah mistik yang penuh rahasia, melainkan kenyataan yang bisa kita ketahui lewat kegiatan refleksi. Aku murni itu, oleh Fichte, pada akhirnya disamakan dengan perbuatan atau kegiatan itu sendiri. Intelegensi pada gilirannya berbuat. Karena intelegensi disamakan dengan :berbuat”, idealisme Fichte dapat disebut “idealisme praktis”.

Tiga proposisi dasar Filsafat sebagai berikut:
Pertama, Fichte membedakan antara kegiatan spontan Aku murni dan refleksi filsuf atas Aku murni itu. Keduanya adalah kesadaran, tetapi kita toh bisa membedakannya. Yang pertama adalah kesadaran yang belum disadari,maka bukan kesadaran “bagi dirinya”. Yang terakhir adalah kesadaran “bagin dirinya”, sebab sudah disadari oleh filsuf lewat intuisi intelektualnya. Kalau begitu, bisa dikatakan bahwa di dalam intuisi intelektual, Aku murni itu menyatakan atau menempatkan dirinya sendiri. Dalam rumusan Fichte “aku murni menempatkan dirinya sendiri”. Ini menjadi proposisi pertama atau tesis idealismenya. Selanjutnya, menempatkan diri disamakan dengan berada. Dengan kata lain, dalam intuisi intelekltual, Aku murni itu mengafirmasi diri.
Kedua, Fichte menjelaskan bahwa kesadaran baru bisa muncul kalau ada sesuatu yang bukan kesadaran. Dengan kata lain, Aku murni baru bisa disadari falam intusi intelektual kalau Aku murni itu dipertentangkan dengan suatu non-Aku, dan Non-Aku ini harus diadakan sendiri olehg Aku murni itu (kalu tidak idealisme ditinggalkan). Karena itu proposisi dasar kedua dari idealisme berbunyi: Aku murni menempatkan suatu non-Aku yang bertentangan dengannya.
Ketiga, Fichte menjelaskan bahwa non-Aku itu sama tak terbatasnya dengan Aku murni. Kalau demikian, tentu keduanya masing-masing akan saling meniadakan, sehingga kesadaran menjadi mustahil. Lalu bagaimana bisa dijelaskan bahwa dalam kenyataan kesadaran itu ternyata ada? Menurut Fichte, kesadaran muncul kalau Aku murni yang yang absolut itu dan non-Aku saling membatasi. Artinya, keduanya harus bisa dibagi-bagi menjadi aku terbatas dan non-Aku terbatas. Aku terbatas dan non-Aku terbatas ini saling berlawanan untuk menghasilkan kesadaran, dan perlawanan ini dihasilkan oleh Aku murni atau Aku absolut itu sendiri. Karena itu, proposisi dasar ketiga berbunyi: Aku murni menempatkan di dalam dirinya suatu ego terbatas yang berlawanan dengan non-ego terbatas. Dengan rumusan ini, Fichte dapat menjelaskan kemungkinan pengalaman kita menurut asas-asas idealisme. “Pohon” yang kita lihat itu “asing” itu bukan objek pada dirinya, melainkan hasil kegiatan Aku murni yang mengadakan ego terbatas (kesadaran terbatas kita tentang pohon) dalam perlawanannya dengan non-ego terbatas (pohon atau alam).

Pemikiran Filosofis J.J. Rousseau tentang Kebudayaan dan Pendidikan

Pemikiran Filosofis J.J. Rousseau tentang Kebudayaan dan Pendidikan

Eddy Suranta

Rosseau berpendapat bahwa pikiran yang tampil dalam kebudayaan, yaitu: seni, sastra, ilmu hanyalah bunga-bunga yang membuat manusia mencintai situasi perbudakannya. Dengan pendapat ini Rosseau mau menyingkapkan artifisial dari kebudayaan. Segala bentuk tata krama hanyalah selubung untuk tingkah laku yang sia-sia yang mencegah persahabatan sejati dan mebuat kita tidak lagi percaya kepada sesama kita. Segala bentuk seni dan ilmu pengetahuan lahir dari kejahatan-kejahatan kita, maka cenderung pada kejahatan. Astronomi lahir dari takhayul; geometri lahir ketamakan; fisika dari kemalasan, seni debat dari ambisi, etika dari kesombongan. Kritik Rosseau ini membalikkan keyakinan pencerahan. Bagi pencerahan kemajuan teknis sebagai kemerosotan moral. Jadi, sekiranya dia hidup pada zaman kita ini, tanpa keraguan sedikitpun dia akan mengecam ilmu dan teknologi sebagai perangsang militerisme.

Ide tentang sifat artifisial kebudayaan yang membusukkan amnusia itu dilandasi oleh sebuah pengandaian tertentu yang sangat dipuja-puja oleh Rosseau, yaitu “kodrat asali manusia”. Berbeda dari Hobbes, dia menegaskan bahwa dalam keadaan asali manusia hidup damai dan tak dihalangi oleh konvensi-konvensi yangs esat. Dia membayangkan waktu itu manusia mengembara keluar masuk rimba, tanpa industri, tanpa bahasa, tanpa rumah, tanpa keinginan untuk menyakiti makhluk-makhluk lain, dan berkedudukan sama di antara mereka. Perbedaan manusia dan hewan baginya tidak terletak pada rasionya, melainkan pada kemapuan kehendaknya yang mengatasai sifat otomatis, sebab bersifat rohani.

Seperti Hobbes, Rosseau juga membahas bagaimana terjadinya masyarakat secara perlahan-lahan. Masyarakat terjadi dengan ditetapkan hak milik pribadi. Milik pribadi inilah yang menjadi biang keladi ketidaksamaan sosial dan lenyapnya kesederhanaan asali manusia. Miliku dan milikmu adalah dasar masyarakat. Dengan lahirnya masyarakat, menurut Rosseau, munculah perang dan kejahatan-kejahatan. Ketidaksamaan sosial menyebabkan manjusia kehilangan kebebasann alamiahnya. Di sini yang dipersoalkan adalah ketidaksamaan moral dan politis, bukan ketidaksaman alamiah, sebab baginya alam tak bisa dipersalahkan dalam memberi bakat yang berbeda-beda, sedangkan kebudayaan dengan sengaja membuat manusia menderita karena ketidaksamaan ini. Kalaupun kebudayaan menciptakan kesaman, misalnya kesamaan di antara para budak dalam rejim despotis, menurut Rosseau, kesamaan ini adalah hasil korupsi keadaan asali, maka menghasilkan penderitaan belaka.

Selanjutnya, Rosseau berpendapat bahwa pendidikan yang dilaksanakan secara ototritatif, dengan disiplin ketat dan nyaris mekanis, menuntut kepatuhan luar biasa dari siswa. Tujuan akahirnya dalah penyeragaman tingkah laku dan informasi. Pendidikan macam itu tidak disetujui Rosseau. Dalam bukunya Emile, ou L’Education, Rosseau memperahankan kembali tessisnya bahwa manusia itu menurut kofratanya baik, tetapi lalu dibusukkan oleh kebudayaan. Salah satu elemen kebudayaan yang bertanggungjawab atas korupsi moral manusia adalah pendidikan, maka pendidikan harus ditransformasikan. Dia berpendapat bahwa daya dorong alamiah dalam diri manusia adalah cinta diri, yang juga menjadi sumber segala hasrat alamiah lainnya. Cinta diri tidak sama dengan egoisme, sebab egoisme hanya bisa ada dalam masyarakat dan bukan dalam keadaan asali. Cinta diri bersifat primitif dan sesuai dengan tatanan alam, amak baik adanya. Denga asumsi ini lalu dia menyarankan bahwa dalam pendidikan sebaiknya naluri-naluri alamiah dan rasa cinta diri anak dibiarakan berkembang bebas bukannya dibendung. Segala disiplin, khotbah, intelektualisme harus disingkirkan. Semua ini hanya menghambat perkembangan dan menanamkan prasangka ke dalam diri anak. Mendasari saran ini adalah anggapan Rosseau bahwa kodrat manusia pada dasarnya baik. Katanya, segalanya baik, ketika keluar dari tangan sang Pencipta; segalanya memburuk di tangan manusia. Lagi-lagi yang dikritik di sini adalah institusi-institusi kultural yang cenderung membusukkan kodrat manusia.

Dengan mengikuti gagasan-gagsan Rosseau di atas kita menemukan sebuah gerak balik dari pencerahan. Sebagai optimisme terhadap kemajuan kebudayaan, Rosseau justru mengambil sikap pesimis atasnya. Di dalam hal ini, pemikiran Rosseau memiliki kedudukan yang penting dalam sejarah filsafat modern, sebab untuk pertama kalinya sejak kemajuan ilmiah terjadi di Barat, dilontarkan sebuah kritik bukan atas dogmatisme religius dan metafisika tradisional, melainkan atas apa yang diyakini sebagai kemajuan.

Rabu, 25 Februari 2009

kritik David Hume atas Substansi dan kesadaran diri

kritik David Hume atas Substansi dan kesadaran diri

Eddy Suranta

David hume berpendapat bahwa di dalam rasioanlisme diyakini adanya subtansi material di luar kita. John Locke meskipun mulaimempersoalkan pendekatan rasionalistis, tetap mengandaikan adanya substansi dengan membedakan persepsi dan objek. Hume tidak setuju dengan Locke itu. Katanya yang bisa diketahui pikiran hanyalah persepsi, bukanlah objek. Kita tahu bagaimana kaitan antara persepsi dan objek-objek di luar diri kita. Bukti untuk hal itu juga tidak ditemukan secara empiris.

Selanjutnya Hume nberusaha menjelaskan bagaiman kita berpikir bahwa subansi itu ada. Menurutnya, pikiran mengamati ciri-ciri yang senatiasa ada bersama-sama. Imajinasi lalu membuat kesatuan artifisial atas ciri-ciri itu dan pikiran pun mendapat kesan seolah-olah subtansi itu ada. Misalnya, kita menangkap ciri-ciri hitam, kasar, berat, padat yang selalu ada bersama-sama, sehingga pikiran menyimpulkan bahwa “batu” yang memiliki ciri-ciri tetap macam itu ada. Menurut Hume, kesatuan ciri yang kemudian disebut substansi itu hanyalah fiksi saja, khayal. Substansi hanyalah kumpulan persepsi belaka. Kalau objek di luar kita disangsikan adanya, bagaimana dengan kesadaran diri atau “aku”? Di dalam menjawab ini Hume mengambil sikap yang paling skeptis. Berkeley yang tidak percaya akan adanya objek luar masih percaya adanya substansi rohani adalah aku. Akan teapi, Hume juga mempersoalkan adanya substansi rohani itu. Menurutnya, kita ini selalu menerima kesan, idea, dan persepsi, seperti: panas, dingin, berat, senang, sedih, nikmat, dst-- sampai kita mendapat kesan bahwa ada suatu kesatuan ciri yang senantiasa ada bersama-sama dan kita sebut “diriku”. Semua ini, menurut Hume, hanyalah kumpulan persepsi saja. Jikalau persepsi-persepsi itu disingkirkan, kita segera kehilangan “diriku”. Misalnya sewaktu tidur, katanya “diriku” itu tidak ada. Yang paling pasti adalah setelah mati, sebab dengan kematian segala persepsi betul-betul dihancurkan dan dilenyapkan, sehingga membuat “diriku” ini non-entitas (bukan kenyataan).