Senin, 17 Maret 2008

aku dan lumpur lapindo


lumpur lapindo

Eddy Suranta

Bulan Juli 2006, kurang lebih dua bulan setelah semburan pertama muncul. aku pertama kali melintas di dekat lumpur lapindo. waktu itu semburan masih kecil dan lahan yang digenangi lumpur masih hitungan hektar, jalan tol masih bisa digunakan.

Beberapa bulan kemudian aku dari Malang menuju Surabaya. Jalan Tol sudah ditinggikan, daerah sekitar semburan sudah dibuat kolam. tidak lama kemudian Jalan Tol yang sebelumnya melewati daerah semburan ditutup untuk selamanya. pernah juga rombongan kami singgah di situ yang dijadikan tempat wisata. masuk bayar Rp. 2000,- ke dekat sumber semburan bayar Rp 10000 naik ojek, parkir mobil Rp. 5000. ada juga yang menjual VCD seputar lapindo. karena iba aku membelinya meski uang di kantongku sudah menipis. makluk mahasiswa. selanjutnya aku berkali-kali ke Surabaya. semakin hari, tembok kolam semburan lapindi makin tinggi. rumah-rumah sudah banyak yang hilang, lintasan kereta api berkali-kali harus diperbaiki. setiap hujan turun kecemasan-demi kecemasan muncul.

pernah, satu kali kami mau ke surabaya. dari berbagai berita media cetak dan elektronik kami dengar bahwa jalan malang-surabaya tidak bisa dilalui. kami menunda keberangkatan dan acara di surabaya dibatalkan.

sekarang setiap mau ke Surabaya dan sebaliknya, pikiran pertama yang muncul adalah Mbak Lusi alias Lumpur Sidoarjo. pusing................

dan setiap kali aku lewat ada berbagai pertanyaan muncul........dan aku tidak menemukan jawaban....aku juga bingung harus tanya ke mana.

setiap kali kulihat tembok yang makin tinggi aku bertanya dalam hati: Sampai Kapan?

akhirnya untuk saat ini aku membayangkan ribuan wajah kuyu, tak berdaya, memelas, menahan amarah, menanggung beban berat, wajah bayi-bayi tak tak bersalah namun harus menahan semua derita itu. seorang ibu muda dan bayinya terduduk lesu dengan tatapan kosong. di pinggir jalan seorang bapak tua memandangi bekas rumahnya yang tinggal tembok. ia meratapi, betul sungguh meratap.

setiap kali aku lewat, kulihat tembok itu makin tinggi yang katanya sudah memindahkan beberapa bukit....aku hanya bisa terdiam...kelu...

dan aku katakan, aku yang tidak menanggung beban langsung sungguh merasa teriris dan terluka.....aku merasa tak sanggup mendengar ratapan mereka yang menajdi korban lapindo. makin tak sanggup ketika penderitaan dan ratapan mereka tertahan tembok-tembok kekuasaan dan kekayaan segelintir orang, sedangkan tembok-tembok di kolam lapindo siap mengancam.....

setiap kali aku lewat...................
lewattttttttt.....

1 komentar:

Anonim mengatakan...

entah mau ngomong apa lagi aku. beberapa hari yang lalu aku juga lewat porong. di beberapa wilayah yang dekat dengan tanggul, saya melihat sebuah gambaran kota mati. kios-kios, rumah-rumah ditinggalkan pemiliknya. Yang terbayang di benakku saat itu adalah wajah orang-orang yang pernah menghuni tempat tersebut. fenomena tersebut tidak hanya menampilkan kesedihan anak manusia tetapi menggambarkan negara kita. suatu pembelokan fakta telah terjadi di sana. suatu keteledoran manusia yang kepingin mengeruk keuntungan dianggap sebagai bencana alam. begitukah?